Halaman

Tampilkan postingan dengan label Santri Bertanya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri Bertanya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2015

Sejarah Kelam Syariat Wahabi

PELAKSANAAN "SYARIAT ISLAM"-NYA WAHABI

Pandangan Guru Sufi terhadap pelaksanaan syariat Islam dalam bernegara yang tidak sejalan dengan pandangan ustadz Hajibul Haqq, ternyata berbuntut. Entah siapa yang menyebarkan, tiba-tiba Guru Sufi diisukan sebagai kyai yang menolak syariat dan tidak mau menjalankan syariat. Sejumlah aktivis datang untuk bertabayyun mengenai isu tak jelas itu. Dipimpin Khoirul, Joko dan Bambang, belasan aktivis meminta penjelasan Guru Sufi tentang kebenaran isu tersebut.

Sambil tersenyum Guru Sufi menjelaskan duduk persoalan kenapa ia tidak sepaham dengan ustadz Hajibul Haqq dengan alasan pentingnya kejelasan yang dimaksud syariat, karena kejelasan syariat tidak sekedar menyangkut sudut pandang yang digunakan melainkan menyangkut pula pelaksanaannya. Sebab baiknya syariat pada tingkat konseptual, belum tentu baik dalam pelaksanaan apalagi jika syariat itu dimanfaatkan secara tidak semestinya untuk kepentingan pribadi. “Kita punya sejarah kelabu tentang pelaksanaan syariat yang tidak jelas apa firqah dan mazhabnya dan siapa pelaksanaannya, sehingga timbul kepahitan bagi umat,” ujar Guru Sufi.

“Maaf Mbah Kyai, setahu saya bangsa Indonesia belum pernah menerapkan syariat Islam,” kata Khoirul menyela penjelasan Guru Sufi,”Bahkan untuk hukum jinayat, yang diterapkan pun bukan syariat Islam melainkan hukum bikinan Belanda, Burgelijk Wetboek. Bagaimana Mbah Kyai bisa menyatakan kita punya sejarah kelabu tentang pelaksanaan syariat?”

“Ketahuilah, wahai pemuda-pemuda kritis,” sahut Guru Sufi menjelaskan,”Bahwa sejak jaman kuno bangsa kita sudah hidup teratur menurut hukum. Sejak tahun 648 Masehi, kitab Kalingga Dharmasastra jadi acuan hukum pidana dan perdata. Terus dilanjut era Singhasari dengan Purwadigama Dharmasastra yang dilanjut era Majapahit dengan Kutaramanawa Dharmasastra. Untuk hukum pidana, misal, semua sama: pencuri potong tangan, rampok dihukum bunuh, koruptor dipenggal dan dirampas harta korupnya ditambah hukuman anak dan isterinya jadi budak. Penzinah dihukum bunuh. Pemerkosa dihukum bunuh, dan macam-macam hukuman yang keras lainnya untuk pelaku kejahatan. Sampai zaman Demak, Pajang dan Mataram hukum yang keras itu terus dijalankan.”

“Maaf Mbah Kyai, kalau hukum kuno seperti itu, kan sama dengan syariat Islam?” tanya Khoirul.
“Esensinya sama tapi namanya saja yang beda,” sahut Guru Sufi,”Karena itu warga era Majapahit sampai era Demak, yang Hindu, Buddha maupun muslim tunduk di bawah supremasi hukum kuno itu.”

“Lalu hukum syariat mana yang Mbah Kyai sebut sebagai sejarah kelabu?”
“Waktu kaum Wahabi berkuasa di Sumatera Barat,” kata Guru Sufi menjelaskan latar sejarah pelaksanaan syariatnya kaum Wahabi,”Waktu itu yang memimpin Tuanku Nan Rinceh. Berbagai tindak maksiat, bid’ah, khurafat, takhayul, dan adat kebiasaan yang tidak Islami diberantas dengan keras. Bahkan kebiasaan makan sirih, dilarang dengan ancaman hukuman mati. Nah, sebagai contoh ketegasan penguasa, bibi Tuanku Nan Rinceh yang sudah tua ditangkap karena kedapatan makan sirih. Lalu orang tua yang merasa tidak melakukan dosa dan salah itu dihukum pancung di lapangan. Tidak cukup memenggal perempuan tua itu, Tuanku Nan Rinceh memerintahkan pengikutnya untuk tidak menguburkan mayat bibinya, melainkan menyuruhnya buang ke hutan supaya dimakan hewan buas. Itulah contoh yang sesuai bagi yang melanggar hukum Tuhan.”

“Tindakan Tuanku Nan Rinceh menghukum mati bibinya, menggemparkan dan membuat takut penduduk. Tidak ada satu pun orang yang berani makan sirih lagi. Tapi, para pengikut Tuanku Nan Rinceh justru membawa segepok daun sirih untuk diletakkan di rumah orang-orang kaya. Mereka meminta tebusan uang kepada tuan rumah dan jika tidak dikasih, mereka mengancam akan melaporkan kepada Tuanku Nan Rinceh bahwa di rumah tersebut ditemukan sirih. Tindakan pengikut Tuanku Nan Rinceh itu menggemparkan dan membuat takut penduduk. Ketika orang-orang kaya melaporkan tindakan para pengikutnya yang menyimpang itu, Tuanku Nan Rinceh tidak mengambil tindakan apa-apa. Ia hanya menyesalkan terjadinya penyimpangan tersebut.”

“Watak badui yang anti feodalisme, ternyata dijalankan oleh para penyebar Wahabi selain menista masyarakat bukan Wahabi sebagai kaum adat yang hidup tidak mengikut hukum Islam. Kaum bangsawan muslim di Pagaruyung, tanpa alasan jelas tiba-tiba diserang dan dijarah hartanya. Cicit salah seorang panglima Wahabi yang mencatat kisah-kisah teror kaum Wahabi di Sumatera Utara, termasuk kekejaman kakek buyutnya dalam menjalankan syariat, menyusun kisah-kisah traumatik itu dalam sebuah buku yang diberi judul Tuanku Rao. Demikianlah, resistensi muncul di mana-mana terhadap pelaksanaan syariat Wahabi yang menakutkan penduduk itu, sampai akhirnya pecah perang antara kaum Wahabi dengan kaum muslim setempat, yang kita kenal sebagai Perang Paderi. Itulah, sekelumit sejarah kelabu pelaksanaan syariat yang pernah terjadi di negeri ini. Karena itu, waktu ustadz Hajibul Haqq bicara soal pelaksanaan syariat dalam bernegara, aku tanya dulu syariat yang mana? Syariatnya Wahabi? Syiah? Ahlussunnah wal-Jama’ah? Itu semata-mata karena kita pernah mengalami peristiwa traumatik dalam sejarah penerapan syariat.




Ngotenn leee ...di obong se.. menyane ben ngudeng

‪#Sarkub ‪#Aswaja 

Minggu, 12 Mei 2013

Malaikat Adalah Pembantu Allah


Kekonyolan Wahhabi (Cerita Nyata)

Salah seorang ustadz Wahhabi Indonesia dengan inisial YH ditanya oleh teman saya: "يا أستاذ ، ما حكم من يقول الملائكة أعوان الله ؟ (Ustadz, apa hukum orang yg mengatakan : Malaikat adalah pembantu/penolong Allah?)."

Dengan tegas ia menjawab: "Kafir."

Teman saya lalu menyodorkan selembar foto copy-an kitab Majmuu' al-Fataawaa sambil berujar: "Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmuu' al Fataawaa, jilid 5, hlm. 507 menyatakan bahwa malaikat adalah pembantu dan penolong Allah. Apakah anda berani mengkafirkan Ibnu Taimiyah?."

Ustadz YH melihat lembaran itu sekilas, lalu dengan penuh percaya diri memberikan tanggapan: "هذا سبق الكتابة (Ini adalah kesalahan tulis)."

Begitulah cara Wahhabi berkilah ketika kalah dalam berdebat. Konyol !!!





Selasa, 07 Mei 2013

Bukti Kuat Wahaby Pengikut Dajjal


Membaca artikel ustadz Ibnu Abdillah yang mengkaji hadits-hadits tentang keterkaitan khowarij dengan dajjal dan membuahkan hasil yang cukup akurat bahwa kaum wahhabi kelak akan menjadi pengikut dajjal, membuat saya tertarik untukmengkaji lebih dalam data-data dan bukti-buktinya.

Semoga artikel ustadz Ibnu Abdillah tersebut membuka mata hati para korban doktrin wahabi dan mau kembali ke ajaran Ahlus sunnah waljama’ah. Dan pada kesempatan ini, saya akan mengetengahkan kepada pembaca data dan bukti tentang ini yang lebih akurat dan valid lagi, sehingga lengkap sudah data dan bukti bahwa kelak kaum wahhabi/salafi akan menjadi pengikut dajjal bersama-sama kaum yahudi.

Kunci informasi tentang hal ini adalah hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَاْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّىيَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membacaal-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun /generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhirmereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalamAl-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalammusnadnya)

Dalamriwayat yang lain :

وقال عبد الله بن عمر سمعت رسول الله -صلى اللهعليه وسلم- يقول « يخرج قوم من قبل المشرق يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم كلماقطع قرن نشأ قرن حتى يخرج فى بقيتهم الدجال

“Abdullah bin Umar berkata : “ Aku telah mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihiwa sallam bersabda : “ Akan keluar suatu kaum dari arah Timur yang membaca al-Quran namun tidak melewati kerongkongan mereka, tiap kali putus generasi,maka tumbuhlah generasi berikutnya hingga generasi sisa mereka akan keluar besama dajjal “(HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya )

Dalam hadits panjang tentang kaum khowarij, di akhir disebutkan :

لا يزالون يخرجون حتى يخرج آخرهم مع المسيح الدجال

“Mereka akan terus muncul hingga generasi akhir mereka keluar bersama dajjal “ (Ditakrij oleh imam an-Nasai danal-Bazzar)

Kesimpulan pasti hadits-hadits di atas yang tak boleh diingkarinya adalah :

-Kaum khowarij akan memiliki generasi di setiap zamannya
-Generasi akhir kaum khowarij akan menjadi pengikut dajjal
-Ciri-ciri generasi kaum khowarij tersebut antara lain ; Munculnya dari arah Timur, Selalu membaca al-Quran.

06-05-2013

Fanatik Yang Terlalu


Seorang yang beragamanya terkenal fanatik datang tergopoh-gopoh menemui seorang sahabatnya. Kedua orang bersahabat itu memang berbeda tingkah laku. Yang seorang suka bicara ceplas ceplos dan radikal dalam menyatakan sikap, sedang satunya seorang perenung yang berhati-hati tiap berucap.

"Wah, ada berita bagus, sudah kau dengar?"
"Kabar apa?"
"Pengajian al-Qomar itu sudah dibubarkan dan tidak boleh mengadakan kegiatan di daerah kita ini. Pantas, pantas sekali dibubarkan."

"Mengapa dibubarkan?"
"Karena mereka tergolong aliran sesat."
"Sesatnya bagaimana?"
"Ya, mereka berbeda dengan kita."

"Jadi setiap yang berbeda dengan kita adalah golongan sesat? Jangan buruk sangka kepada orang lain tanpa alasan yang jelas! Lakukan saja agama itu dengan ikhlas. Jangan sampai SETAN masuk mencampuri i'tikad keagamaanmu."

"Bagaimana setan bisa mencampuri i'tikadku, sedang i'tikadku jelas memusuhi setan."
"Tadi sudah kurasakan i'tikadmu diwarnai permainan setan."
"Tadi ketika apa?"

"Ketika engkau tampak gembira karena ada pengajian yang tak sepaham denganmu dibubarkan seolah-olah engkau akan masuk surga dengan adanya golongan lain yang jatuh."


--
D. Zawawi Imron, "Fanatik Yang Terlalu", dalam buku "Sate Rohani dari Madura", hlm. 87-88





Minggu, 05 Mei 2013

Perpecahan di Tubuh Wahaby Salafy


"WAJAH SEKTE SEMPALAN SARAFI WAHABI YG SEBENARNYA"

Ketika saya datang ke as sofwa di lenteng agung (biara salafy turotsi), ustadz as Sofwa bilang haram hukumnya bermajelis dan bertalim dengan salafy yamani.

Ketika saya hadir di Jalan Haji Asmawi Jakarta selatan (biara salafy wahdah islamiyyah), pendeta-pendeta salafy wahdah bilang salafiyyin aliran turotsi itu hizbi antek PKS dan ikhwanul muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam.

Ketika saya hadir ditaklim salafy yang ada di masjid Hidayatusalihin Poltangan Pasarminggu (gereja markas geng salafy sururi), ustad-ustadnya bilang kalau salafy wahdah islamiyyah adalah khawarij anjing-anjing neraka yang menggunakan sistem marhala.

Ketika saya hadir di masjid Fatahillah (salah satu sinagog salafy yamani), rabi-rabi salafy yamaninya bilang kalau salafy sururi, salafy haroki, salafy turotsi, salafy ghuroba, salafy wahdah islamiyyah, salafy MTA, salafy persis, salafy ikhwani, salafy hadadi, salafy turoby bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bidah dan hizbi.

Jafar Umar Thalib (salafy ghuroba) bilang kalau Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) itu ustad otodidak yang pakar hadats (najis) bukan pakar hadits.

Muhamad Umar As Seweed (salafy yamani) bilang kalau Jafar Umar Thalib itu ahli bidah dan khawarij. bahkan komplotan as Seweed bikin buku dengan judul ”pedang tertuju di leher Jafar Umar Thalib” yang artinya Jafar Umar Thalib halal dibunuh.

Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/ organisasi. Organisasi adalah hizbi.

Salafy Wahdah Islamiyyah bilang kalau kalau salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu salafy-salafy primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di zaman purba atau pra sejarah.

Pokoknya tak terhitung lagi perseteruan antar salafy dan ini baru kisah perseteruan antar sesama salafy, belum lagi perseteruan salafy dengan NU, Persis, Muhamadiyyah, Majelis Rasulullah, PKS, DDII, tarbiyyah, Nurul Musthofa, HTI dan banyak lagi.

Ironis sekali, salafy yang mengaku2 anti perpecahan, anti hizbi kok malah berperan sebagai aktor utama perpecahan umat islam.juga sebagai biang kerok kekisruhan dikalangan ahlu sunnah. salafy sendirilah penyebab dakwah salafusalihin menjadi hancur berantakan.

Ironis sekali, rabi-rabi salafy yang konon belajar jauh-jauh dan lama-lama ke timur tengah, tapi di tataran dasar yaitu akhlak, sangat bejat dan arogan.

Mereka tak ubahnya seperti orang dungu narsis yang tenggelam di lautan tumpukan buku-buku tebal.

Yah…keledai ditengah tumpukan buku-buku tebal tetap saja keledai.

Jangan halangi dakwah salaf, biarkan salafy sendiri yang menghalangi dakwah salaf.

Jangan memecah belah barisan salaf, karena barisan salaf akan berpecah belah dengan sendirinya dan secara alami.

Jangan hancurkan salafy, karena cukup salafy sendiri dengan kesadaran penuh dan suka cita menghancurkan dirinya sendiri.

Sudah terlalu lama firqoh salafy dari apapun alirannnya dan sektenya melukai umat islam, melukai ahlu sunnah, melukai ahlu atsar dengan gaya-gayanya yang egomaniak. mungkin sekarang tiba saatnya pembalasan dari Allah azawajalla.

Gara-gara cara dan tabiat orang salafylah yang menyebabkan masyarakat awam menjadi benci terhadap sunnah


Mari Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah


Wahhabi: akhi, ayo kembali ke al-Qur'an dan Assunnah!
Aswaja: Kembali?! Mimpi kali yeeee. Lha wong kami nggak pernah MENINGGALKAN keduanya kok disuruh KEMBALI!

Wahhabi: ikutilah Manhaj Salaf, akhi!
Aswaja: eit, sebentar. Lebih Salaf mana Muhammad Bin Idris Assyafii yang mazhabnya kami ikuti, daripada Muhammad bin Abdul Wahhab yang kalian ikuti?

Wahhabi: antum ini aneh, kenapa kok dikit-dikit merujuk ke kitab kuning? Bukankah kita diperintahkan oleh Rasulullah berpegang teguh pada al-Qur'an dan Assunnah!!
Aswaja: kitab kuning itu karya ulama yang benar-benar berpegang teguh kepada al-Qur'an dan Assunnah, kami percaya kepada kredibilitas dan kapasitas keilmuan beliau-beliau, maka, ekhmm, kami tak ragu ikut. Lebih baik mana, ikut mereka, atau ikut panjenengan yang, konon, "kembali" ke al-Qur'an dan Assunnah tapi mengolah keduanya memakai otak panjenengan yang, ekhm, saya ragukan KINERJA-nya?

Wahhabi: begini, akhi, berdasarkan Manhaj Salaf yang kami ikuti....
Aswaja: mmma'af, ma'af, bisa diulangi?
Wahhabi: baiklah, akhi, berdasarkan Manhaj Salaf yang kami ikuti....
Aswaja: Manhaj Salaf yang mana sih mas? Sebenarnya yang ikut manhaj salaf itu siapa ya? Kami atau kalian? Maaf lho ya, Salafus Sholeh itu banyak lho, kalian ikut siapa hayo?

Wahhabi: kamilah pelestari dan pelanjut ajaran para Salafus Sholeh!
Aswaja: hwadeeeh. Pelestari? Memangnya barang antik yang mau punah? Coba deh, nanti kita cek, kitab-kitab yang dibahas di pesantren kami, dengan kitab-kitab yang kalian pakai daurah, itu lebih orisinil mana dalam hal ke-salaf-an dan metodologis?

Wahhabi: kami ikuti semua Salafus Sholeh!
Aswaja: Beneran? Salafus Sholeh itu buuuanyak lho. Pilih siapa? Kurun ke berapa? Imam siapa? Muridnya imam siapa? Jangankan antar ulama, satu persoalan fiqih saja Imam Syafi'i punya jawaban yang berbeda, kok. Murid-murid beliau bahkan juga punya dua corak aliran lho. Hayooo, nggak mumet ta? Yang pasti gitu lho. Gembar gembor Pembela Sunnah, kok malah nggak jelas begini sih.

Wahhabi: Akhi memang pandai membantah ya. Apa memang karakter Ahli Bid'ah itu begini? (mulai sinis)
Aswaja: iya deh, kami ahli bid'ah. Lha wong nanggepi pendapat aja kok dibilang membantah. Ini kan bukti kalau panjenengan itu menganggap kami ini kerbau yang gampang dicocok hidungnya. Nggak sependapat dianggap membantah. Aneh betul sih. Terus kalau kami ahli bid'ah, panjenengan mau ngapain? Memusyrikkan kami? Mengkafirkan kami? Silahkan, atau mau bunuh kami? Monggo kalau mau...

Wahhabi: baiklah, daripada debat begini, silahkan datang di daurah kami. Ustadz-ustadz kami insyaAllah akan membimbing akhi sesuai dengan aqidah yang haq!
Aswaja: ngapunten, panjenengan niku ngomongne nopo to nggih? Diskusi begini saja kok dibilang debat sih. Di kitab kuning itu ada istilah qawlani, aqwal, wajhani, dan wujuh, jadi kami terbiasa berdialektika, berbeda pendapat. Nggak alergi. Lha kok malah pamerin ustadz segala. Promo ajaran ya?

Wahhabi: tadi antum nyebut kitab kuning lagi? Hmmmm..Kitab kuning itu bikinan ulama yang bisa salah, bisa luput, dan tidak ma'shum?!
Aswaja: lhadalah, mbok ya mikir to, jika ulama bisa salah apalagi antum, eh sorry, apalagi PANJENENGAN?




Wahaby Salafy Diam Diam Memakai Dalil Qiyas


BEBERAPA SYUBHAT KAUM WAHABI ANTI BID’AH HASANAH

Sebagaimana dimaklumi, dalam posting-posting sebelumnya, tidak ada kaum Wahabi yang mampu membantah dalil-dalil para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah tentang adanya bid’ah hasanah. Kaum Wahabi bisanya hanya mengajukan syubhat, keganjilan dalam hati mereka, yang menghalangi mereka untuk menerima bid’ah hasanah. Di antara syubhat kaum Wahabi yang menolak bid’ah hasanah adalah komentar sebagian member di FP ini yang akan kami diskusikan dalam bentuk dialog berikut:

WAHABI: “Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127). Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil : Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama. Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama.”

SUNNI: “Anda tidak mengerti maksud perkataan Ibnu Rajab dalam kitab tersebut. Ibnu Rajab bukan ulama yang anti bid’ah hasanah. Akan tetapi beliau menamakan hukum-hukum yang terkategori sebagai bid’ah hasanah, dengan nama Sunnah. Itu saja maksud pernyataan beliau. Oleh karena itu, Ibnu Rajab mendefinisikan bid’ah hasanah dengan, “perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut”. Sebagaimana dimaklumi, berbagai persoalan yang dihukumi sebagai bid’ah hasanah oleh para ulama, memiliki dasar hukum yang syar’i; al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Kaum Wahabi, karena kebodohannya, berpaling dari dalil Ijma’ dan Qiyas. Di sini Ibnu Rajab, tidak menamakan bid’ah hasanah termasuk bid’ah, akan tetapi beliau namakan sebagai Sunnah.”

WAHABI: “Maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

SUNNI: “Tidak ada ulama yang mengatakan seperti perkataan Anda, bahwa Maulid itu ibadah sepertihalnya shalat, puasa dan haji yang lengkap dengan syarat dan rukunnya. Coba Anda jelaskan, dimana keterangan seperti itu?”

WAHABI: “Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya sehingga maulid Nabi termasuk hari ‘ied dimana banyak dari kaum muslimin berkumpul di hari tersebut.” Definisi ‘ied Ibnu Taimiyyah mengatakan, “’Ied adalah istilah yang diambil karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267). Dengan demikian, maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘ied berdasarkan pengertian di atas karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum muslimin.”

SUNNI: “’Ied yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah di atas, adalah ‘Ied dalam pengertian secara bahasa atau lughawi, yaitu sesuatu yang berulang-ulang dan dilakukan secara rutin. Kalau ‘ied kita arahkan dalam pengertian ini, lalu apa yang tidak dinamakan ‘ied dalam kehidupan kita? Bukankah semua aktivitas kehidupan ini berulang-ulang dan dilakukan secara rutin? PERLU ANDA KETAHUI, BAHWA IBNU TAIMIYAH JUGA MENGANJURKAN DAN MEMBENARKAN HARI RAYA MAULID, SEBAGAIMANA KAMI PAPARKAN DALAM POSTING SEBELUMNYA DI FP INI.”

WAHABI: “Penentuan ibadah atau hari ‘ied kaum muslimin membutuhkan dalil. Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘ied atau bukan maka membutuhkan dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah.”

SUNNI: “Perayaan Maulid Nabi SAW, sudah ada dalilnya, baik dari al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW, sebagaimana kami bahasa dalam posting sebelumnya.”

WAHABI: “Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘ied kecuali yang ditetapkan oleh syari’at sebagai hari ‘ied. Hari ‘ied (yang ditetapkan syari’at) tersebut adalah ‘iedul fithri, ‘iedul adha, hari-hari tasyrik dimana ketiga ‘ied tersebut adalah ‘ied tahunan, serta hari jum’at dimana hari jum’at adalah ‘ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syari’at” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228)”.

SUNNI: “Perkataan Ibnu Rajab di atas tidak mengarah pada kebid’ahan perayaan Maulid Nabi SAW. Sepertinya Anda tidak tuntas membaca Latho-if al-Ma’arif karya Ibnu Rajab. Dalam kitab tersebut, Ibnu Rajab membahas Maulid secara panjang lebar, yang indikasinya beliau membenarkan dan menganjurkan Maulid. Silahkan, Anda baca kitab tersebut.”

WAHABI: “Adakah dalil dianjurkannya maulid?”

SUNNI: “ADA, dan telah kami jelaskan secara detil.”

WAHABI: “Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya para salaf tidak merayakannya (maulid Nabi-pen) padahal ada faktor pendorong untuk merayakannya dan juga tidak ada halangan untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan kita. Mereka -para salaf- lebih semangat untuk berbuat kebaikan” (lihat Iqtidho Shirothil Mustaqim, 2/612-616, dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 198)”.

SUNNI: “Pernyataan Ibnu Taimiyah ini bertentangan dengan pernyataannya sendiri yang membenarkan dan menganjurkan Maulid. Dan pendapat yang menganjurkan ini yang benar, bukan yang melarang. Pernyataan Ibnu Taimiyah yang anda kutip, itu adalah logikan kaum yang anti bid’ah hasanah. Anda belum mematahkan dalil bid’ah hasanah yang kami ajukan, lalu anda mengajukan syubhat untuk menolak bid’ah hasanah, dengan berkata: “Seandainya bid’ah hasanah yang Anda lakukan ini benar, tentu para Salaf akan melakukannya terlebih dahulu.” Jawaban kami terhadap persoalan ini, logika dan pernyataan yang Anda kemukakan, adalah keliru. Karena para sahabat dan ulama Salaf telah mencontohkan banyak bid’ah hasanah, seperti penghimpunan al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar, penyatuan Shalat Taraweh oleh Khalifah Umar, Adzan jum’at dua kali oleh Khalifah Utsman, proses arbitrase pada masa Khalifah Ali dan lain-lain. Syubhat yang Anda kemukakan, ajukan saja kepada para sahabat tadi.”

WAHABI: “Seandainya Rasulullah, para sahabat, tabi’in, maupun 4 imam mazhab mau merayakan maulid Nabi, tentu mudah bagi mereka untuk merayakannya. Faktor pendorong merayakan maulid sudah ada, yakni kecintaan mereka kepada Nabi yang teramat besar, ditambah lagi tidak ada faktor yang menghalangi mereka untuk merayakannya. Namun, mengapa mereka tidak merayakannya? Apa sih susahnya maulidan? Hal ini semata karena keyakinan mereka bahwa maulid bukanlah ajaran Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

SUNNI: “Mengapa kaum Salaf yang Anda sebutkan, tidak merayakan Maulid? Jawabannya, karena mereka belum pernah memikirkannya. Sedangkan keyakinan Anda, bahwa maulid bukanlah ajaran Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu karena Anda tidak tahu dalilnya. Kalau memang keyakinan Anda benar, bahwa maulid bukanlah ajaran Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, tolong Anda jelaskan satu dalil yang secara khusus melarang Maulid? Anda pasti tidak bisa.”

WAHABI: “Sebagai penutup, marilah sejenak kita renungi bersama kisah berikut ini. Suatu ketika, Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah melihat seseorang yang shalat lebih dari 2 raka’at setelah terbitnya fajar. Orang tersebut memperbanyak ruku’ dan sujud. Kemudian beliau melarang orang tersebut meneruskan sholatnya. Orang tersebut pun berkata, “Hai Abu Muhammad (panggilan Sa’id Ibnul Musayyib-pen)! Apakah Allah akan menyiksa aku karena sholatku?” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah akan menyiksamu karena kamu menyelisihi sunnah!”

SUNNI: “Contoh yang Anda kemukakan tidak ada hubungannya dengan Maulid. Anda ini lucu. Katanya dalil itu hanya al-Qur’an dan Sunnah. Tidak ada qiyas dalam ibadah. Tetapi di sini Anda justru menolak Maulid dengan dalil Qiyas juga. Cuma saying sekali, Qiyas Anda tidak nyambung. Mengqiyaskan penolakan Maulid dengan penolakan Sa’id bin al-Musayyab terhadap seseorang yang banyak melakukan shalat sunnah setelah terbitnya fajar. Itu memang tidak ada dalilnya. Kalau Maulid, sangat jelas dalilnya bro.”

WAHABI: “Al Albani berkomentar, “Jawaban Sa’id bin Musayyab adalah senjata ampuh bagi orang yang gemar berbuat bid’ah yang menganggap baik banyak bid’ah dengan alasan isinya adalah zikir dan sholat! Merekapun mengingkari kaum Wahabi dengan memanfaatkan alasan tersebut. Mereka menuduh bahwa Wahabi mengingkari zikir dan sholat! Padahal sejatinya, yang mereka ingkari adalah penyelisihan mereka terhadap sunnah dalam berzikir, sholat, dan sejenisnya” (Irwa-ul Ghalil, 2/236, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 71-72)”

SUNNI: “Sampaikan kepada Al-Albani dan Ali Hasan al-Halabi penulis ‘Ilmu Ushul al-Bida’, atau murid-muridnya, dari kaum Salafi di Indonesia. Katakana kepada mereka, “Anda lucu. Anda ini kaum yang sangat anti Qiyas, tetapi justru di sini diam-diam menggunakan dalil Qiyas untuk menolak bid’ah hasanah? Sementara para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dalam menetapkan bid’ah hasanah semuanya menggunakan dalil nash al-Qur’an dan Hadits.”




Dialog Wahaby Sunni Tentang Maulid



JAWABAN AHLUSSUNNAH TERHADAP BEBERAPA SYUBHAT KAUM WAHABI ANTI MAULID

Wahabi: “Anda hanya menganalogikan perayaan Maulid dengan puasa Asyura’, yang terdapat dalam hadits. Mengapa Anda tidak menganalogikan Maulid dengan dalil dalam al-Qur’an?”

Sunni: “Di dalam al-Qur’an juga terdapat ayat yang dapat dijadikan dasar Maulid Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“ Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami Yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama". (QS. al-Maidah : 114).

Dalam ayat di atas, Nabi Isa AS berdoa kepada Allah agar dikaruniakan hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi umatnya. Yang jelas, lahirnya Nabi Muhammad SAW lebih utama dari pada turunnya hidangan dari langit kepada Nabi Isa AS. Apabila turunnya hidangan dari langit layak dijadikan sebagai hari raya, sudah barang tentu lahirnya Rasulullah SAW lebih layak dijadikan hari raya karena memang jauh lebih mulia dan lebih utama.

Wahabi: “Anda harus tahu bahwa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi SAW itu orang-orang Syiah Isma’iliyah di Mesir, yang termasuk aliran sesat menurut Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Mengapa Anda mengikuti jejak orang-orang Syiah?”

Sunni: “Memang kaum yang anti Maulid seperti Wahabi menjelaskan bahwa yang pertama kali menggelar Maulid itu orang-orang Syiah Isma’iliyah di Mesir. Sementara para ulama yang pro Maulid menjelaskan bahwa yang pertama kali menggelar Maulid itu seorang Raja yang adil, penganut Ahlussunnah Wal-Jama’ah, yaitu Sultan Muzhaffaruddin Kawkabri bin Zainuddin Ali Buktikin. Beliau mengikuti jejak seorang ulama shaleh yang populer, yaitu al-Imam Umar bin Muhammad al-Mulla. Versi kedua ini sepertinya lebih dipercaya, karena disebutkan oleh al-Hafizh al-Suyuthi, dan sebelumnya disebutkan oleh al-Imam al-Hafizh Abu Syamah al-Dimasyqi dalam kitabnya al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits, hal. 95-96. Kitab ini sangat dikagumi oleh kaum Wahabi, dan di-tahqiq oleh Masyhur Hasan Salman, penulis Wahabi yang sangat produktif, karena banyak mengupas persoalan bid’ah yang diperangi oleh kaum Wahabi. Meskipun demikian, Abu Syamah masih menganggap perayaan Maulid termasuk bid’ah paling hasanah.

Dan seandainya, versi kaum anti Maulid tersebut benar, bahwa yang pertama kali menggelar Maulid itu orang-orang Syiah Isma’iliyah yang sesat, maka hal ini tidak berpengaruh terhadap hukum Maulid, karena dalil yang diajukan oleh para ulama sangat kuat, sebagaimana kami tegaskan sebelumnya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dari Aisyah RA, bahwa kaum Quraisy telah berpuasa Asyura pada masa-masa Jahiliyah, kemudian Rasulullah SAW , memerintahkan umatnya berpuasa sampai akhirnya diwajibkan puasa Ramadhan dan Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mau berpuasa Asyura berpuasalah, dan barang siapa yang mau tidak berpuasa, maka tidak berpuasa.”

Dalam hadits di atas, dijelaskan bahwa puasa Asyura itu tradisi kaum Quraisy pada masa-masa Jahiliyah. Akan tetapi karena puasa tersebut benar, maka Rasulullah SAW memerintahkan umatnya berpuasa, tidak peduli walaupun puasa tersebut dari Jahiliyah.

Wahabi: “Itu yang menetapkan puasa Asyura kan Rasulullah SAW. Kalau Maulid siapa?”

Sunni; “Kalau Maulid yang menetapkan jelas para ulama besar seperti al-Imam Abu Syamah, Ibnu Taimiyah, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Suyuthi dan lain-lain, dengan dalil Qiyas, yaitu dianalogikan terhadap hadits Rasulullah SAW dan al-Qur’an yang turun kepada Rasulullah SAW. Nah, kan persoalannya selesai. Mau apalagi? Dalam agama kan seperti itu?”

Wahabi: “Hari kelahiran Rasulullah SAW diperselisihkan oleh para sejarawan. Mengapa Anda menetapkan Maulid Nabi SAW pada bulan Maulid?”

Sunni: “Perlu Anda ketahui, bahwa para ulama menggelar Maulid, dasarnya bukan karena hari kelahiran Nabi SAW disepakati pada hari tertentu secara pasti. Coba Anda lihat dalil-dalil para ulama yang kami kutip. Tidak ada yang berdalil, karena hari kelahiran Nabi SAW tanggal sekian secara definitif. Dan para ulama yang menganjurkan Maulid seperti Abu Syamah, Ibnu Taimiah, Ibnu Hajar dan al-Suyuthi, semuanya ahli hadits dan sejarah. Tidak perlu belajar kepada kita soal sejarah kelahiran Nabi SAW.

Hanya saja yang perlu Anda ketahui, hari kelahiran Nabi SAW yang paling dikuatkan oleh para ulama adalah Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Ini saja sudah cukup dalam menjadi ketetapan hari perayaan Maulid. Karena masalah Maulid ini bukan persoalan akidah, yang harus menggunakan dalil shahih dan qath’iy.”

Wahabi: “Kelompok Anda dalam mengamalkan suatu amalan, tidak mencari dalil dulu. Tapi mengamalkan dulu, baru mencari dalilnya. Bukan mencari dalilnya dulu, baru mengamalkan.”

Sunni: “Maaf, itu kan menurut Anda. Anda sepertinya tidak tahu sejarah Islam. Anda perlu belajar agama lebih dalam lagi. Apakah Anda kira bahwa yang mengawali tradisi Maulid itu orang awam yang tidak mengerti ilmu agama? Tradisi Maulid itu awalnya dari ulama. Hanya karena sekarang ini, amaliyah umat Islam banyak mendapat serangan dari kelompok Anda, maka para ulama mencarikan dalilnya. Dan itu sudah ada sejak dulu. Sedangkan statemen Anda, bahwa kami mencari pembenaran dari dalil, itu karena Anda, hanya menggunakan dalil kullu bid’atin dholalah. Setiap ada persoalan, anda dalili dengan hadits kullu bid’atin dholalah, dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan pemahaman ahli hadits. Maaf, kami agak keras, karena mengimbangi bahasa Anda.”




Fatwa Hasyim Asy'ari Tentang Wahaby/ Salafy


Belakangan ini banyak bermunculan gerakan yang mengatasnamakan Islam. Salah satunya gerakan yang mempunyai misi memurnikan ajaran tauhid. Mereka mulai gencar melakukan ekspansi gerakannya dari berbagai lini dan berbagai macam strategi, baik melalui organisasi di sekolah, organisasi kampus, sampai pada organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Indonesia. Gerakan mereka juga tidak luput dari pertarungan politik pemerintah, ekonomi, sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Mereka juga melakukan dakwah dari musholla ke musholla, dari masjid ke masjid, dan dari rumah ke rumah.Kondisi umat Islam di Indonesia sekarang ini semakin kompleks, seiring dengan kompleksnya pemahaman-pemahaman yang diajarkan oleh berbagai macam golongan dengan kepentingan masing-masing.

Kondisi ini sebenarnya sudah lama terjadi di Indonesia diduga pertama kali dibawa masuk ke kawasan Nusantara oleh beberapa ulama asal Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Untuk menjawab kegelisahan umat Islam KH. Hasyim Asy'ari sudah mewanti-wanti umat agar berhati-hati terhadap gerakan ini. Sebagaimana disebutkan dalam Mukaddimah kitab ini: "Saat ini, kaum muslimin sangat membutuhkan doktrin-doktrin ajaran yang benar, karena sungguh telah terjadi pencampuradukan ajaran dikalangan orang-orang yang mulia (para pemegang otoritas keagamaan) dengan orang-orang awam yang merendahkan martabat keagamaan, hingga tampak terjadi pembiasan, kesamaran antara yang “Haq” danyang “Bathil”. Banyak orang yang bodoh mulai berani maju berfatwa, padahal wawasan dan pemahaman mereka terhadap kitabullah dan sunnah Rasulillah SAW. sangat cupet dan kerdil." Untuk lebih lengkapnya berikut ulasannya dalam Kitab Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Hal 9:

و منهم فرقة يتبعون رأي محمد عبده و رشيد رضا ، ويأخذون من بدعة محمد بن عبد الوهاب النجدي ، وأحمد بن تيمية وتلامذيه ابن القيم الجوزي و عبد الهادي

Di antara mereka (sekte yang muncul pada kisaran tahun 1330 H.), terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan rasyid Ridha. Melaksanakan kebid'ahan Muhammad bin Abdul Wahhab al-najdy, Ahmad bin Taimiyah serta murid-murid Ibnul Qoyyim al-jauzy dan Abdul hadi.


فحرموا ما أجمع المسلمون على ندبه ، وهو السفر لزيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وخالفوهم فيما ذكر وغيره

Mereka mengaharamkan hal-hal yang telah disepakati oleh orang-orang Islam sebagai sebuah kesunnahan, seperti bepergian untuk menziarahi makam Rasulullah SAW serta berselisih dalam kesepakatan-kesepakatan lainnya.

قال ابن تيمية في فتاويه : وإذا لا اعتقاد أنها أي زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم طاهة ، كان ذلك محرما بغجماع المسلمين ، فصار التحريم من الأمر المقطوع به

Bahkan Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Majmu' Fataawa-nya, ".................. dengan demikian, karena berkeyakinan (yakni mengunjungi makam rasulullah sebagai sebuah bentuk ketaatan), mereka telah jatuh pada keharaman yang telah disepakati oleh umat Muslim. Karenanya, keharaman adalah sesuatu yag mestinya ditinggalkan................."

قال العلامة الشيخ محمد بخيت الحنفي المطيعي في رسالته المسماة تطهير الفؤاد من دنس الإعتقاد : وهذا الفريق قد ابتلى المسلمون بكثير منهم سلفا وخلفا ، فكانوا وصمة وثلمة في المسلمين وعضوا فاسدا ،

Al-Allamah Syeikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth'i menyatakan dalam kitabnya, Tathirul Fuad min danasil I'tiqood (Pembersihan hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa, "kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun kholaf. Mereka adalah duri "dalam daging/musuh dalam selimut" yang hanya merusak keutuhan Islam.

يجب قطعه حتى لا يعدى الباقي ، فهو كالمجذوم يجب الفرار منهم ، فإنهم فريق يلعبون بدينهم يذمون العلماء سلفا وخلفا

Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Ibarat anggota tubuh terkena penyakit yang menular, kemudian ia harus memotongnya agar tidak menjalar atau menular pada anggota tubuh yang lain. Firqoh ini seolah-olah seperti penyakit lepra yang harus kita hindari sejauh mungkin .

ويقولون : إنهم غير معصومين فلا ينبغي تقليدهم ، لا فرق في ذلك بين الأحياء والأموات يطعنون عليهم ويلقون الشبهات ، ويذرونها في عيون بصائر الضعفاء ، لتعمى أبصارهم عن عيوب هؤلاء


Mereka menyatakan, "para ulama bukanlah orang-orang yang terbebas dari dosa, maka tidaklah layak mengikuti mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal." Mereka menyebarkan (pandangan/asumsi) ini pada orang-orang bodoh agar tidak dapat mendeteksi kebodohan mereka.

ويقصدون بذلك إلقاء العداوة والبغضاء ، بخلولهم الجو و يسعون في الأرض فسادا ، يقولون على الله الكذب وهم يعلمون ، يزعمون أنهم قائمون بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، حاصون الناس على اتباع الشرع واجتناب البدع ، والله يشهد إنهم لكاذبون


Maksud dari propaganda ini adalah munculnya permusuhan dan kericuhan. Dengan penguasaan atas jaringan teknologi mereka merusak tatanan masyarakat. Mereke menyebarkan kebohongan mengenai Allah, padahal mereka menyadari kebohongan tersebut. Menganggap dirinya melaksanakan amar makruf nahi munkar, mereccoki masyarakat dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syariat dan menjauhi kebid'ahan. Padahal Allah maha mengetahui, bahwa mereka berbohong.
( Selengkapnya: http://www.4shared.com/office/rrUUACZr/TERJEMAH_RISALAH_AHLUSSUNNAH_W.html )

Imam Ahmad bin Hambal dan Ziarah Kubur


Imam Ibrahim al Harbi adalah seorang ulama yang semasa dengan Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ahli hadits bahkan juga seorang mujtahid. Beliau adalah salah seorang yang direkomendasikan oleh Imam Ahmad agar anaknya berguru kepadanya.

Dan Imam Al Buhuti Al Hambali mengutip perkataan Imam Ibrohim Al Harbi ini dalam kitabnya yang berjudul "Kasy-syaful-Qina' 2/69" sebagai berikut:

”قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْحَرْبِيُّ: الدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ”

"Berkata Ibrohim Al Harbi: BERDOA DI MAKAM MA'RUF AL KARKHI ADALAH PENGOBATAN YANG MUJARAB"

Dan disebutkan pula dalam kitab Tarikh Baghdad 1/22 hal yang sama sebagai berikut:

أخبرنا إسماعيل بن أحمد الحيري قال أنبأنا محمد بن الحسين السلمي قال سمعت أبا الحسن بن مقسم يقول سمعت أبا علي الصفار يقول سمعت إبراهيم الحربي يقول قبر معروف الترياق المجرب

Gak usah diterjemahkan, sama kok isinya, cuma bedanya dengan sanad lengkap. dan dalam Imam Al Dzahabi juga menyebutkan hal yang sama dalam kitabnya Sayru A'lamin Nubala 9/343 dengan tidak menyebutkan sanadnya, tapi dalam kitab yang sama 17/539 menyebutkannya dan sama jalur periwayatannya.

Namun melihat fakta para Imam meriwayatkan atau mengatakan seperti ini, mereka yang suka menuduh para peziarah dan tawassul dengan tuduhan penyembah kubur, membuat bantahan-bantahan yang sama sekali tidak mencerminkan argumen yang kukuh dan dipercaya.

Minggu, 28 April 2013

Non Muslim Berjumpa Rasulullah dalam Mimpi

KISAH SUAMI ISTRI YAHUDI YANG BERJUMPA RASULULLAH SAW DI DALAM MIMPI ...

Bismillahir-Rah­maanir-Rahim ... Siapapun bisa mimpi berjumpa Rasulullah SAW, bahkan non muslim pun ada yang mimpi bertemu Rasul SAW, sebagaimana sebuah kisah nyata yang pernah terjadi di Mesir dan diriwayatkan dalam kitab maulid Syaraful Anam.

Ada seorang wanita yahudi bertetangga dengan orang muslim yang suka merayakan maulid. Orang muslim ini gemar sekali membaca riwayat-riwayat­ tentang Baginda Rasulullah SAW dan suka mengundang para tetangganya yang lain untuk merayakan maulid Nabi SAW di rumahnya serta menjamu mereka.

Tetangga si muslim yakni si wanita yahudi tadi kerap menyaksikan dari rumahnya, para muslimin berkumpul di rumah tetangganya dan melakukan perayaan maulid Nabinya.

Pada suatu malam, ia bermimpi hadir di acara itu dan melihat orang yang wajahnya terang benderang dan indah, ia lalu bertanya kepada orang disekitarnya, “Siapakah orang tampan itu?” Lalu ada yang menjawab, “Beliau adalah Nabi Muhammad SAW.”

Si yahudi lalu bertanya lagi, “Apakah jika saya menyapanya, ia mau membalas sapaan saya?” Dijawab, “Beliau adalah manusia yang paling ramah dan selalu membalas sapaan orang lain.” Tanya si yahudi kemudian, “Apakah jika saya bukan muslim ia mau menjawab sapaan saya?” Dijawab lagi, “Beliau menjawab semua yang menyapanya.”

Maka yahudi itu berkata, “Wahai Muhammad…!”

Rasul SAW menjawab, “Labbaiki”

Wanita yahudi itu berkata, “Kenapa engkau menjawab Labbaik padaku (Labbaik adalah jawaban penghormatan dari yang dipanggil), padahal kau tahu aku bukan muslim?”

Rasul SAW menjawab, “Aku tidak mengucap Labbaik kecuali aku tahu bahwa kau akan mendapat hidayah.”

Wanita yahudi itu pun masuk islam di tangan Rasulullah SAW dalam mimpinya, dan ia berjanji akan membuat perayaan maulid untuk Nabi SAW. Ini semua terjadi dalam mimpi si wanita.

Esok paginya ia bangun dari tidur, dan ia ingat bahwa ia sudah masuk islam semalam dan ia tetap ingin meneruskan imannya itu. Ia menjadi lebih bingung karena sudah berniat membuat perayaan maulid, bagaimana dengan suaminya yang masih beragama yahudi?

Maka ia bangun di pagi itu. Ia melihat suaminya sedang berkemas dan beres beres di rumahnya. Di ruang depan ada banyak bahan makanan dan di halaman rumah ia lihat ada beberapa ekor kambing gemuk dalam keadaan terikat.

Sang istri bertanya dengan penuh keheranan, “Suamiku, kau mau apa? Kenapa banyak sekali bahan makanan di dalam?" Suaminya menjawab, “Aku mau buat perayaan maulid.”

Sang istri terkejut, “Maulid? Suamiku, apakah kau sudah masuk islam?”

Sang suami menjawab dengan tenang, “Aku masuk islam di tangan Rasul SAW semalam dalam mimpi sesudahmu.”

Subhanallah ..!

Allahumma Shalli wa Sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Ali Sayyidina Muhammad ...

Wallahu A'lam bishawab ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

Hukum Memerangi Wahaby

HUKUM MEMERANGI KHAWARIJ (WAHABI SALAFI)

Sebagaimana dijelaskan pula di dalam Kitab Majma’ Az-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid karya Al-Hafizh Nuruddin Ali bin Abu Bakar bin Sulaiman Al-Haitsami Al-Mishri pentahqiq Muhammad Abdul Qadir Ahmad ‘Atho penerbit Darr Al-Kutub Al-Ilmiah Beirut Libanon cetakan pertama 2001/1422 H juz 6 hal. 241-242 sbb:

10400 – وعن أبي سعيد الخدري أن أبا بكر الصديق جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله إني بواد كذا وكذا فإذا رجل متخشع حسن الهيئة يصلي . فقال له النبي صلى الله عليه و سلم : ” اذهب فاقتله ” . ص . 336
قال : فذهب إليه أبو بكر فلما رآه على تلك الحال كره أن يقتله فرجع إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال النبي صلى الله عليه و سلم لعمر : ” اذهب فاقتله ” . فذهب عمر فرآه على الحال الذي رآه أبو بكر فرجع فقال : يا رسول الله إني رأيته يصلي متخشعا فكرهت أن أقتله . قال : ” يا علي اذهب فاقتله ” . فذهب علي فلم يره فرجع علي فقال : يا رسول الله إني لم أره . قال : فقال النبي صلى الله عليه و سلم : ” إن هذا وأصحابه يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ثم لا يعودون فيه حتى يعود السهم في فوقه فاقتلوهم هم شر البرية ” رواه أحمد ورجاله ثقات

10400- Dari Abu Said Al-Khudzri, sesungguhnya Abu Bakar As-Siddiq datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku dilembah itu dan itu, maka seketika ada seorang lelaki sedang dalam keadaan khusyu’ shalat.’ Maka bersabdalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, “Pergilah dan bunuhlah dia.” Berkata (Abu Sa’id Al-Khudzri), maka pergilah Abu Bakar dan ketika dia melihnya dalam keadaan itu (sedang shalat) maka Abu Bakar enggan membunuhnya dan kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bersabdalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Khathab, “Pergilah dan bunuhlah dia.” Maka pergilah Umar bin Khathab, ketika dia melihnya dalam keadaan seperti itu (sedang shalat) sebagaimana yang dilihatnya oleh Abu Bakar maka dia kembali dan berkata, ‘Ya Rasulullah, aku melihatnya dia sedang khusyu’ shalat, maka aku enggan membunuhnya.’ Nabi bersabda, “Hai Ali, pergi dan bunuhlah dia.” Maka pergilah Ali dan tidak melihatnya kemudian Ali pulang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah aku tidak melihatnya.’ Berkata (Abu Sa’id Al-Khudzri) maka Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ini (orang) dan teman-temannya mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya kemudian mereka tidak akan kembali didalamnya sehingga anak busur bisa kembali ketempatnya, maka BUNUHLAH (PERANGILAH) MEREKA, mereka adalah SEJELEK-JELEK CIPTAAN (manusia).” (HR. Ahmad dan rijalnya kuat) [Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 241]

10401 – وعن أنس بن مالك قال : كان رجل على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم يغزو مع رسول الله صلى الله عليه و سلم فإذا رجع وحط عن راحلته عمد إلى مسجد الرسول فجعل يصلي فيه فيطيل الصلاة حتى جعل أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم يرون أن له فضلا عليهم فمر يوما ورسول الله صلى الله عليه و سلم قاعد في أصحابه فقال له بعض أصحابه : يا رسول الله هو ذاك الرجل فإما أرسل إليه نبي الله صلى الله عليه و سلم وإما جاء من قبل نفسه فلما رآه رسول الله صلى الله عليه و سلم مقبلا قال : ” والذي نفسي بيده إن بين عينيه سفعة من الشيطان ” . فلما وقف على المجلس قال له رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقلت في نفسك حين وقفت على المجلس : ليس في القوم خير مني ؟ ” . قال : نعم ثم انصرف فأتى ناحية من المسجد فخط خطا برجله ثم صف كعبيه فقام يصلي فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . فقام أبو بكر فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقتلت الرجل ؟ ” . فقال : وجدته يصلي فهبته . ص . 337
فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . فقال عمر : أنا . وأخذ السيف فوجده يصلي فرجع . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعمر : ” أقتلت الرجل ؟ ” . فقال : يا رسول الله وجدته يصلي فهبته . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أيكم يقوم إلى هذا فيقتله ؟ ” . قال علي : أنا قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أنت له إن أدركته ” . فذهب علي فلم يجده قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” أقتلت الرجل ؟ ” . قال : لم أدر أين سلك من الأرض . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” إن هذا أول قرن خرج في أمتي ” . قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” لو قتلته – أو قتله – ما اختلف في أمتي اثنان إن بني إسرائيل تفرقوا على إحدى وسبعين فرقة وإن هذه الأمة – يعني أمته – ستفترق على ثنتين وسبعين فرقة كلها في النار إلا فرقة واحدة ” . قلنا : يا نبي الله من تلك الفرقة ؟ قال : ” الجماعة “
قال يزيد الرقاشي : فقلت لأنس : يا أبا حمزة فأين الجماعة ؟ قال : مع أمرائكم مع أمرائكم
رواه أبو يعلى . ويزيد الرقاشي ضعفه الجمهور وفيه توثيق لين وبقية رجاله رجال الصحيح
وقد صح قبله حديث أبي بكرة وأبي سعيد

10401- Dari Anas berkata : Ada seorang lelaki pada zaman Rasulullah berperang bersama Rasulullah dan apabila kembali (dari peperangan) segera turun dari kenderaannya dan berjalan menuju masjid nabi melakukan shalat dalam waktu yang lama sehingga kami semua terpesona dengan shalatnya sebab kami merasa shalatnya tersebut melebihi shalat kami, dan dalam riwayat lain disebutkan kami para sahabat merasa ta’ajub dengan ibadahnya dan kesungguhannya dalam ibadah, maka kami ceritakan dan sebutkan namanya kepada Rasulullah, tetapi rasulullah tidak mengetahuinya, dan kami sifatkan dengan sifat-sifatnya, Rasulullah juga tidak mengetahuinya, dan tatkala kami sednag menceritakannya lelaki itu muncul dan kami berkata kepada Rasulullah: Inilah orangnya ya Rasulullah. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya kamu menceritakan kepadaku seseorang yang diwajahnya ada tanduk syetan. Maka datanglah orang tadi berdiri di hadapan sahabat tanpa memberi salam. Kemudian Rasulullah bertanya kepada orang tersebut : ” Aku bertanya kepadamu, apakah engkau merasa bahwa tidak ada orang yang lebih baik daripadamu sewaktu engkau berada dalam suatu majlis. ” Orang itu menjawab: Benar”. Kemudian dia segera masuk ke dalam masjid dan melakukan shalat dan dalam riwayat kemudian dia menuju tepi masjid melakukan shalat, maka berkata Rasulullah: ”Siapakah yang akan dapat membunuh orang tersebut ? ”. Abu Bakar segera berdiri menuju kepada orang tersebut, dan tak lama kembali. Rasul bertanya : Sudahkah engkau bunuh orang tersebut? Abu Bakar menjawab : ”Saya tidak dapat membunuhnya sebab dia sedang bersujud ”. Rasul bertanya lagi : ”Siapakah yang akan membunuhnya lagi? ”. Umar bin Khattab berdiri menuju orang tersebut dan tak lama kembali lagi. Rasul berkata: ”Sudahkah engkau membunuhnya ? Umar menjawab: ”Bagaimana mungkin saya membunuhnya sedangkan dia sedang sujud”. Rasul berkata lagi ; Siapa yang dapat membunuhnya ?”. Ali segera berdiri menuju ke tempat orang tersebut, tetapi orang terebut sudah tidak ada ditempat shalatnya, dan dia kembali ke tempat nabi. Rasul bertanya: Sudahkah engkau membunuhnya ? Ali menjawab: ”Saya tidak menjumpainya di tempat shalat dan tidak tahu dimana dia berada. ” Rasulullah saw melanjutkan: ”Sesungungguhnya ini adalah tanduk pertama yang keluar dari umatku, seandainya engkau membunuhnya, maka tidaklah umatku akan berpecah. Sesungguhnya Bani Israel berpecah menjadi 71 kelompok, dan umat ini akan terpecah menjadi 72 kelompok, seluruhnya di dalam neraka kecuali satu kelompok ”. Sahabat bertanya : ” Wahai nabi Allah, kelompk manakah yang satu itu? Rasulullah menjawab : ”Al Jama’ah”. (Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 242). Wallahu a’lam

PERTANYAANNYA, PERLUKAH WAHABI SALAFI YANG MEMILIKI CIRI-CIRI SAMA DENGAN KHAWARIJ DI INDONESIA INI DIPERANGI DAN DIBUNUH ? SILAHKAN DITANGGAPI…………. (Ingat membunuh melanggar hukum)

Hakikat Wahaby Salafy


MEMAHAMI HAKIKAT SALAFI
http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=12410

Oleh: Syamsuddin Muir

Berbagai pengaduan masyarakat, membuat saya terpanggil menyingkap perbedaan pemikiran diantara sesama ulama Salafi. Tujuannya, agar jamaah Salafi terlebih dahulu menjelaskan sikap mereka terhadap perbedaan pemikiran diantara ulama panutan mereka, sebelum mereka mengklaim bid’ah dan sesat pendapat ulama di luar Salafi. Perbedaan diantara ulama Salafi bukan saja terjadi dalam masalah fiqh, tapi juga terjadi dalam masalah akidah. Apakah jamaah Salafi menerima perbedaan itu sebagai hal yang wajar, atau bahkan mereka menerima sebagiannya dan mengklaim bid’ah dan sesat pendapat yang lain?

Jika mereka menerima perbedaan itu secara wajar, maka perlakukan juga sikap seperti itu terhadap perbedaan pendapat yang terjadi antara ulama Salafi dengan ulama Islam yang lain, tidak bersikap diskriminatif. Karena semua ulama itu punya kedudukan yang sama dalam Islam.

Hakikat Salafi

Salafi merupakan perubahan nama dari aliran pemikiran Wahabi. Tentang pemikiran dan pengaruh pendiri aliran Wahabi, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu bisa ketahui melalui berbagai buku sejarah. Diantaranya yang tertulis dalam buku Syaikh Utsman bin Basyar al-Hanbaly: Unwan al-Majd Fi Tarikh al-Najd, buku Dr. Abdullah al-Shaleh al-Utsaimin: Buhuts Wa Ta’liqat Tarikh al-Mamlakah al-Arabiyah al-Su’udiyah, dan buku Dr. Louis de Corancez: al-Wahhabiyun Tarikh Ma Ahmalah al-Tarikh.

Jadi, tidak ada perbedaan antara Wahabi dan Salafi. Dan pendiri pemikiran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab mengajak kepada pemikiran Imam Ibnu Taimiyah dan sebagian ulama mazhab Hanbali (Syaikh Hasan Ali al-Saqqaf: al-Salafiyah al-Wahhabiyah).

Aliran pemikiran Salafi Wahabi ini bukan tiga generasi terbaik (sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in) yang tersebut dalam hadits Imam al-Bukhari. Tiga generasi Islam terbaik itu tidak meninggalkan metodologi baku yang mesti diikut oleh generasi Islam setelahnya. Dan pada masa tabi’in terdapat dua metodologi pemikiran berbeda, yaitu madrasah al-hadits dan madrasah al-ra’yi. Pemahaman mereka terhadap sumber utama Islam, Alquran dan Sunnah juga ada terjadi perbedaan pendapat. Diantaranya, mayoritas ulama generasi terbaik itu (salaf al-shaleh) mengatakan bahwa Allah SWT bisa dilihat di akhirat nanti. Pendapat mayoritas ini berbeda dengan pendapat Sayidah Aisyah, Imam Mujahid, Imam Ikrimah, dan kelompok Mu’tazilah yang berpegang pada keumuman ayat 103 dalam surah al-An’am.

Syaikh al-Albani

Syaikh al-Albani seorang ulama Salafi yang menekuni kajian hadits secara otodidak, tanpa mempelajarinya secara langsung kepada ulama hadits, dan ulama Islam mengakui beliau sebagai ulama hadits. Tapi sebagai manusia, Syaikh al-Albani tidak luput dari kekeliruan. Makanya, sebagian ulama hadits mengkritisi pemikiran beliau.

Diantaranya, kritikan terhadap penilaian Syaikh al-Albani yang melemahkan hadits tentang tawassul, bisa dibaca dalam buku Syaikh Abdullah al-Shiddiq al-Ghumari: Juz Fih al-Radd ‘Ala al-Albani. Kritikan terhadap kontradiksi penilaian Syaikh al-Albani terhadap suatu hadits, bisa dilihat dalam 3 jilid buku Syaikh Hasan Ali al-Saqqaf: Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihat. Dan kritikan terhadap Syaikh al-Albani dalam melemahkan sebagian hadits yang terdapat dalam kitab Sunan (Abu Dawud, al-Tarmizi, al-Nasa’i, dan Ibnu Majah), bisa dilihat dalam 6 jilid kitab Syaikh Mahmud Sa’id Mamduh: al-Ta’rif Bi Auham Man Qassam al-Sunan Ila Shahih Wa Dha’if.

Terkadang, Syaikh al-Albani juga terkesan mengkerdilkan ulama lain. Diantaranya, waktu mengomentari buku Syaikh ‘Id Abbas: al-Da’wah al-Salafiyah Wa Mauqifuha Min al-Harakat al-Ukhra, beliau mengatakan, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu pengikut mazhab Hanbali yang tidak punya pengetahuan tentang hadits.

Dalam silsilah al-Ahadits al-Shahihah (6/676), Syaikh al-Albani mengklaim bahwa musuh sunnah Nabi adalah orang pengikut mazhab, pengikut pemikiran al-Asy’ariyah, dan pengikut aliran tasawuf. Padahal, mayoritas ulama hadits itu mengikut pemikiran akidah al-Asy’ariyah (Syaikh Abu Hamid Marzuq: Bara’ah al-Asy’ariyin min aqa’id al-Mukhalifin:1/112).

Syaikh al-Albani juga dikenal sebagai ulama yang punya fatwa kontroversial. Diantaranya, beliau mengatakan kedua orangtua Rasulullah SAW penghuni neraka. Beliau juga melarang azan dengan menggunakan mekropon. Bahkan, Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palestina meninggalkan negerinya, pindah ke negara lain, dan penduduk yang tetap tinggal di Palestina adalah kafir. Fatwa al-Albani ini sempat menggegerkan dunia Islam, dan Syaikh Shalah Abdul Fattah al-Khalidi membantah fatwa ini dan menghimbau para murid al-Albani untuk meninggalkan beliau.

Niat Shalat

Imam Syafi’i termasuk dalam barisan generasi tabi’ tabi’in (generasi terbaik). Dan ijtihad fiqh mazhab Imam Syafi’i mengatakan tempat niat adalah hati, dan diucapkan dalam hati ketika takbir al-ihram. Ini sesuai dengan pemikiran fiqh Imam Syafi’i bahwa niat mesti bersamaan dengan awal ibadah, dan awal ibadah shalat adalah takbir al-ihram. Fiqh Imam Syafi’i juga membolehkan pengucapan niat sebelum takbir al-ihram berfungsi sebagai pengingat hati (Imam al-Syafi’i: al-Umm: 2/224). Pengucapan niat dalam hati pada saat takbir al-ihram juga merupakan pendapat mayoritas mazhab fiqh (Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar: al-Niyat Fi al-Ibadat).

Mengenai niat shalat, Syaikh al-Albani menukil pendapat Imam al-Nawawi (mazhab Syafi’i) tanpa penolakan. Biasanya, jika tidak setuju, Syaikh al-Albani akan langsung mengklaim pendapat itu bid’ah dan sesat. Dan dalam fatwanya, sudah hampir ribuan masalah yang dihukumnya bid’ah dan sesat (Abu Ubaidah Masyhur: Qamus al-Bida’ Min Kutub al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani). Wallahu a’lam. (*)

***Penulis Adalah:
Alumnus Fakultas Syariah
Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Selasa, 16 April 2013

Boikot Terhadap Tayangan Khazanah Trans7


Beberapa hari ini akun, FP, maupun Group FB yang "berafiliasi" ke Nahdliyyin atau yang punya amaliyah sama, menyerukan boikot terhadap tayangan Khazanah Trans7. Penyebabnya, tayangan bakda subuh ini terindikasi menebar keyakinan ala Wahhabi: Tajsim, Trinitas Tauhid, hingga perkara Tabarruk maupun Tawassul yang dengan curang hanya mengambil pendapat satu pihak lalu mengabaikan pendapat pihak lain. Endingnya: terdapat infiltrasi ajaran Wahhabi, entah dalam tim redaksi acara maupun penasehat program ini

Baiklah, maaf jika saya berbeda dengan sahabat-sahabat lain. Saat menyaksikan program ini, saya banyak memperoleh manfaat. Wawasan juga bertambah karena ada visualisasi melalui video maupun foto. Kalaupun ada beberapa episode yang dianggap melenceng, mendistorsi pendapat ulama, hingga menyinggung kelompok tertentu, hal ini bukan alasan menyerukan penghentian tayangan ini. Jika anda memboikot, silahkan. Itu wewenang anda.

Saya melihat beberapa faktor di dalam peristiwa ini: 

Pertama, media adalah salah satu kaki tangan kapital. Profit adalah tujuan utama. Profit bisa terkerek dengan adanya rating. Jika rating tinggi, iklan akan membanjir. Cara menaikkan iklan bermacam-macam, di antara yang telah lazim adalah mengibarkan kontroversi. Program Khazanah memang bukan di jam prime time, tapi di jam sepi miskin penonton sebagaimana acara bermutu lain: kajian kitab, pengajian dialogis, taushiyah monolog dlsb. Intinya, dalam faktor ini, kontroversi dikibarkan agar rating terkatrol yang berefek pada datangnya pemasang iklan produk Islami: pasta gigi, pakaian muslim/ah, KBIH, parfum, dlsb, maupun produk "sekuler kapitalis sejati" namun dengan memajang tokoh/seleb yang dipersepsikan sebagai "muslim taat", misalnya Opick, Dedy Mizwar, Rhoma Irama, Neno Warisman, Astri Ivo, hingga Mama Dedeh, dll.

Kedua, aspek ideologis. Program ini mungkin dikendalikan oleh tim yang (maaf) awam dalam keilmuan agama, atau bergairah belajar ilmu agama tapi gampang menjustifikasi, namun punya "ideolog" di balik layar, dialah phantom of opera sebenarnya. Dialah yang merancang narasi, ber-istidlal meskipun pakai terjemahan yang menyebabkan cewek naratornya terbata-bata melafalkan istilah Arab, hingga dalam penentuan tema bahasan. Hingga akhirnya, sebagaimana alasan klise ala Wahhabi, mereka mendengungkan slogan klise "pemurnian aqidah" meskipun motto bagus ini seringkali dipakai menyikat pemahaman kelompok lain.

Ketiga, pakai teori kontra-intelijen: "TEBAR DARAH AGAR MUNCUL LINTAH". Ya, jika anda berada di rawa lembab, tebarlah darah, niscaya lintah-lintah yang bersembunyi bakal suka cita bergerak menggeliat berpesta pora menampakkan diri di tengah aroma darah. Apa hubungannya? Begini, tebar isu kontroversial-emosional-sentimentil agar lebih mudah melakukan identifikasi terhadap anggota kelompok tersebut, sekaligus mengukur tensi reaksi dan tonase pengaruh isu. Hal ini dilakukan agar lebih mudah memetakan penguasaan jaringan lawan, pengaruh isu, tingkat reaksi, strategi perlawanan musuh, hingga pada pola "pukul balik musuh menggunakan kekuatan musuh".

Jika saat ini warga NU di dunia maya reaksioner luar biasa dengan tayangan Khazanah dan melaporkan ke KPI, bagi saya ini sungguh kontraproduktif. Alasannya? Silahkan memakai teori yang KETIGA di atas.

Bagi saya, maaf, program Khazanah memiliki manfaat yang sangat banyak. Terlebih acara ini telah menjadi "on the spot" versi Islam. Kalaupun ada beberapa episode yang kontroversoal-nyelekit bagi Nahdliyyin, justru hal ini menunjukkan "kekalahan" kita dalam penguasaan akses-akses strategis di wilayah teknologi-informatika-birokratis. Akses vital yang dikuasai "min-hum", bukan "min-na".

Begitu pentingnya wilayah informasi-komunikasi ini, sehingga PKI dan kelompok lain yang melakukan kudeta di berbagai negara, PASTI membuat gerakan khas: ke Istana Negara/ kediaman presiden sambil menguasai kantor berita, baik stasiun TV maupun Radio, lalu menyabotase tayangan dalam kontrol penuh pengkudeta.Kembali ke bahasan semula, saya lebih sreg jika surat kepada KPI dilayangkan terkait persoalan sinetron sampah, infotainmet yang kerasukan memberitakan Eyang Subur secata simultan, dan berbagai tayangan murahan lain. Ini, bagi saya lebih elegan.


---
Allahu A'lam


Hakikat Kebenaran

Seorang murid di pondok pesantren sedang berdialog dengan gurunya tentang hakikat kebenaran.

"Guru, mengapa ada orang yang suka menganggap orang lain sesat?"

"Tentu karena dirinya sudah merasa yang paling benar."

"Tapi apa sikap demikian bisa dibenarkan?"

"Menurut dia tentu dirasa sudah benar."
"Menurut Tuan Guru?"

"Bagiku tak perlu kebenaran. Yang penting kebenaran itu menurut Allah. Bagi orang tersebut apa yang diucapkannya adalah orang lain sesat. Itu lantaran dari sangat kuatnya keyakinan dia."

"Jadi keyakinan yang kuat itu bisa menimbulkan vonis-vonis 'sesat' yang dialamatkan kepada orang lain?"

"Ya, karena ia telah bisa menarik garis tegas yang memisahkan antara yang benar dan yang salah. Ia sangat yakin terhadap itu. Dan karenanya ia siap mati." 

"O...kalau begitu aku mundur berguru kepada dia. Jangan-jangan orang seperti itu hanya mengajar bertuhan kepada 'keyakinannya sendiri', bukan kepada Allah."

 ---

"Kebenaran",

dicomot dari buku 'Soto Sufi dari Madura'
karya D. Zawawi Imron, hlm. 56-57.